Ilustrasi
 
15 September 2014 10:55:20

Sepotong Cerita Tentang Ayah

Kategori : Kasih

Suatu malam seorang anak merengek meminta dibelikan makanan kesukaannya kepada Ayahnya.
Sang Ayah yang sedang membaca koranpun tidak menggubris rengekan sang anak.
Karena merasa diacuhkan, sang anak berpikir bahwa ia harus merengek lebih keras lagi supaya sang Ayah memenuhi keinginannya. Akan tetapi, sang Ayah membentaknya sehingga anaknya semakin keras merengek, sampai akhirnya ia mengambil rotan dan memukul punggung sang anak.


Setelah sadar dari perbuatannya ia melemparkan rotan itu lalu pergi meninggalkan anaknya yang terisak-isak merintih kesakitan.
Selang beberapa jam Ibunya membawakannya sebungkus bihun goreng dan memintanya untuk menghabiskannya, karena Ayahnya akan marah jika ia tidak mau memakannya. Di dalam hati sang anak, ia berjanji bahwa tidak akan pernah meminta apapun lagi dari sang Ayah karena untuk sekedar mendapatkan makanan saja ia harus merasakan kesakitan.

Kini 20 tahun sudah berlalu sejak kejadian itu, tetapi ingatan sang anak terhadap perlakuan Ayahnya masih tersimpan di dalam ingatannya. Walaupun ia berkata tidak membenci sang Ayah tetapi tindakannya secara otomatis menunjukkan sebuah penolakan. Sampai pada suatu hari, sang Ibu tidak sengaja bercerita tentang peristiwa itu kembali. Di dalam hatinya sang anak mengeluh mengapa kenangan buruk itu yang diungkit kembali oleh Ibunya. Namun ia tersentak begitu Ibunya menceritakan kejadian yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

Ibunya berkata : "Nak, ketika itu Ayahmu kesal dan memukul kamu sampai menimbulkan bekas luka di punggungmu. Ibu tidak bisa membantu apa-apa saat itu. Tetapi janganlah marah pada Ayahmu, ia tidak sengaja melakukannya. Kamu terlalu kecil saat itu untuk mengerti bahwa Ayah dan Ibu tidak memiliki uang lebih untuk membeli bihun goreng kesukaanmu. Ayahmu sedang memikirkan bagaimana kita dapat makan esok hari dan
amarahnya memuncak mendengar rengekkanmu."

Sang anak bertanya, jika memang Ayahnya tidak memiliki uang, mengapa kemudian ia pergi setelah memukulnya dan membelikan makanan tersebut. Sang Ibu tersenyum dan menjawab : Nak, Ayahmu menyesal setelah itu, lalu ia keluar dengan membawa beberapa potong celana dan pakaian terbaiknya. Kamu tahu apa yang ia lakukan? Ia menjual semuanya ke penjual barang bekas di dekat pasar demi mendapatkan sedikit uang untuk membeli makanan yang kamu minta"


Hati sang Anak terenyuh dan tersimpan penyesalan yang dalam saat ia mendengar kata-kata Ibunya. Dari hal ini ia dapat merasakan kasih Ayahnya yang tulus, sebab sang Ayah tidak pernah menceritakan atau bahkan mengungkit hal itu ketika mereka bertengkar. Akhir pekan ini Ayahnya akan pulang ke Jakarta, ia teringat setiap kali Ayahnya datang ia selalu menolak jika diminta untuk menjemput di stasiun, ia juga menghabiskan banyak waktu di luar rumah entah lembur dikantor atau pergi dengan teman-temannya agar tidak bertemu muka dengan sang Ayah.

Di dalam kamarnya ia berlutut dan berdoa, ia menyesali kesombongannya karena selama ini ia tidak pernah sungguh-sungguh mengampuni sang Ayah. Dan sekarang sudah berapa banyak waktu dan pengalaman-pengalaman yang seharusnya ia dapat rasakan bersama dengan sang Ayah telah terlewatkan. Tetapi ia sadar bahwa ia tidak dapat memutar kembali waktu yang telah berlalu, yang ia miliki adalah hari ini untuk menebus tahun-tahun yang hilang.

Hari itu ia mengambil keputusan untuk mengampuni dan mengasihi Ayahnya. Kemudian ia menelepon Ayahnya dan berkata bahwa beliau tidak perlu memesan taksi karena ia yang akan menjemputnya, diujung telepon sana terdengar suara terkejut Ayahnya.

Akhir pekan tiba, ia menanti kereta yang membawa sang Ayah menuju Stasiun Kota. Tidak berapa lama ia melihat sesosok pria paruh baya dan berkacamata, dengan guratan-guratan di keningnya, tampak tua dan lelah. Senyumnya merekah di ujung jalan dan airmatanya mengalir ketika sang anak membisikkan kata maaf dan memeluknya.


Sungguh kisah cinta yang terhebat ketika hati bapa kembali kepada anaknya, dan hati anak kembali kepada bapanya.

 
Sumber : HTcom
View(10399)

Baca juga :
 
Comments :
Back