Kesaksian
 
23 September 2008 01:56:04

Kursi Pembawa Kesadaran!

Kursi Pembawa Kesadaran!

Salam Kasih...

Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang kejadian yang saya alami beberapa hari lalu tepatnya Sabtu, tanggal 20 September 2008 kemarin. Hari itu saya bangun siang sekali karena kebetulan saya libur, saya baru bangun tidur saat jam menunjukkan kira-kira pukul 12.00 tengah hari. Setelah bangun, saya bergegas mandi dan setelahnya seperti biasa menyalakan komputer dan bersiap untuk Online seperti biasanya. Tidak lama kemudian, tepatnya pukul 14:00 saya keluar untuk makan siang sampai akhirnya saya selesai setengah jam kemudian.

Dari sini lah ceritanya dimulai ketika saya bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang duduk dengan barang bawaan yang akan dijualnya disamping jalan raya. Padahal siang itu matahari sangat terik sekali, tetapi mungkin karena barang bawaannya yang lumayan besar dan memakan tempat membuat ia hanya bisa beristirahat di samping jalan itu sambil menunggu pembeli. Lalu saya berminat membeli barang tersebut, ia membuka harga Rp.200,000 untuk barang tersebut. Tetapi saya terus menawarnya sesuai harga yang saya mau yaitu Rp.120,000. Akhirnya ia juga setuju dengan harga yang saya tawarkan tersebut. Dan ia pun bertanya kepada saya kemana ia harus mengangkut barang tersebut? Lalu saat itu juga saya menunjukkan jalan menuju kost saya yang kira2 jaraknya 100 meter dari tempat kakek itu menunggu.

Setelah sampai di depan kost, saya pun menelepon teman kost saya untuk membuka pintu dan membantu saya mengangkut barang tersebut ke
kamar saya. Sebelumnya saya sempat ngobrol sedikit dengan kakek yang kira-kira berusia sekitar 65 tahun itu. Betapa terkejutnya saya ketika ia mengatakan bahwa ia membawa barang yang saya beli darinya itu dari Bogor ke Jakarta. Ia mengatakan bahwa ia naik kereta api (saya tidak tahu harga tiketnya) dan turun di daerah Tanah Abang, kemudian dari daerah Tanah Abang ia memikulnya dengan kedua tangannya hingga Pal Merah tentunya sambil berharap ada yang segera membeli. Anda mau tahu barang apa yang dibawa ia bawa sejauh itu? Yaitu sebuah kursi santai berukuran kurang dari 1X2 meter dan beratnya kira-kira diatas 30kg.

Setelah saya membayar uangnya Rp.130.000 ia pun pergi, meskipun semula kami sepakat dengan harga Rp.120.000, tetapi saya sengaja menambahkan sedikit. Setelah membawa kursi tersebut ke kamar saya, teman kost saya yang lain tampak terkejut dengan barang yang saya beli. Lalu ia bertanya: "Berapa harga kursi ini?", "Kamu beli dimana?". Lalu saya menceritakan kepadanya sambil bertanya padanya : "Menurutmu harga Rp. 130.000 kemahalan or ga?". Ia pun menjawab dengan cepat dengan kalimat : "Jika lu merasa harga kursi ini mahal, gue langsung beli aja dari lu sekarang!" Lanjutnya : "Jika gue diupah Rp.200.000 untuk membuat kursi ini aja, gue masih gak mau dan lagipula gue gak bisa". Teman saya semakin terkejut ketika ia mendengar darimana kursi sebesar dan seberat itu dibawa dan oleh siapa kursi tersebut dibawa. Yaitu dipikul seorang kakek belasan kilometer dari Tanah Abang sampai Pal Merah.

Dari jawaban teman saya tersebut, saya sempat tersentak dan terdiam sambil berpikir kenapa tadi saya masih menawar kursi tersebut sampai harga jauh dibawah yang kakek itu harapkan. Saat itu saya tiba-tiba merasa sedih sekali dan bertanya pada diri saya sendiri kenapa saya bisa menolak harga Rp.200,000 yang kemudian turun menjadi Rp. 175,000 lalu Rp.150,000 lalu Rp. 125.000 dan saya tetap menolaknya hingga akhirnya menjadi Rp. 120,000 sesuai kemauan saya waktu itu. Saat itu pula saya segera turun dan berlari keluar mencari Kakek itu lagi dengan maksud hati memberikan ia sejumlah uang lagi. Tapi kakek itu sudah terlanjur pergi dan menghilang. Dengan wajah menyesal dan lesu saya pun kembali ke kamar saya sambil duduk di atas kursi itu dan bertanya sekali kepada diri saya sendiri dan kepada TUHAN dengan pertanyaan : "Kenapa saya terlambat menyadari kelakuan saya?", "Kenapa kemurahan hati itu datang terlambat?". Mengapa tadi saya tidak menyadari kesombongan saya, karena harusnya saya tidak menawar saja dan bahkan saya seharusnya membantu kakek itu mengangkat kursi itu ke tempat saya. Betapa harusnya saya malu jika saya melihat pengorbanan dan perjuangan hidup kakek itu jika dibandingkan saya yang terkadang masih bisa memuaskan diri lewat kemalasan, tidur berlama-lama dan bangun begitu siang, belum lagi bentuk kemalasan lain. Bayangkan! Saya adalah anak muda dan ia adalah seorang kakek tua. Jauh sekali berbeda! Antara sebuah kemalasan anak muda dengan sebuah semangat kakek tua.

Tapi akhirnya saya mendapat jawaban kenapa Tuhan membiarkan hal kejadian ini boleh saya alami. IA tidak membiarkan saya terus berada dalam penyesalan yang sia-sia. Maka keluarlah jawaban-jawaban kenapa hal itu boleh saya alami, yaitu karena Tuhan menginginkan sebuah "Perubahan" dan bukan "Penyesalan". Artinya, Saya harus berubah dan bukan terus menyesal. Saya harus berjuang dan bukan bermalas-malasan. Saya tidak boleh lemah dan kalah ketika saya masih muda, melainkan saya harus tetap kuat dan menang hingga saya tua, hingga rambut saya putih seperti rambut kakek itu, bahkan hingga akhir usia saya! Peristiwa itu yang awalnya sebuah kesedihan tiba-tiba berubah menjadi peristiwa yang begitu memberkati saya. Semoga pengalaman saya ini juga boleh memberkati hidup Anda yang telah mau membaca cerita panjang lebar ini.
"Sungguh! Ada setiap rencana yang Tuhan taruh lewat setiap hal yang kita alami setiap hari baik itu pergumulan, masalah atau ujian. Dan Tujuan TUHAN bukan untuk membawa kita kepada sebuah penyesalan yang berkepanjangan melainkan sebuah PERUBAHAN HIDUP yang DIA siapkan!".

"Penyesalan boleh terlambat, tetapi tidak dengan Pertobatan. Tak ada kata terlambat buat bertobat dan berubah selama kita masih hidup!"

"Begitulah Tuhan mengubah hidup kita! Yaitu dari Kesalahan terjadi Penyesalan dan dari Penyesalan DIA taruh Kesadaran agar kita berjalan ke arah Pertobatan untuk hidup di dalam Perubahan, dan sampai kepada Keselamatan yang DIA sediakan!"

Dan terakhir Tuhan bilang bahwa sebenarnya kemurahan hati yang tadinya saya pikir terlambat sebenarnya tidak terlambat, buktinya saya beroleh kemurahan dariNya berupa sebuah "Kesadaran" lewat peristiwa yang saya alami dan lewat jawabanNYA...

"Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan"
(Matius 5 : 7)


Semoga Berguna... Tuhan Yesus Memberkati!

 
Sumber : HTcom
View(7059)
 
Comments :
Back
 
Bila Anda memiliki kesaksian-kesaksian, dan Anda mau memuat kesaksian Anda di HTcom, Anda dapat mengirimkan kesaksian Anda ke admin@hikmat-tuhan.com
Kesaksian Anda akan menjadi berkat bagi banyak orang.