Kesaksian
 
07 Januari 2009 02:48:45

Handphone...

Handphone...

Salam Kasih...

Saya ingin menceritakan pengalaman saya sekaligus bersaksi tentang kebaikan Tuhan yang luar biasa nih,hehe. Tepatnya satu hari sebelum hari Ibu yaitu tanggal 21 Desember 2008, saya sempat mengirim pesan singkat melalui messenger ke saudara-saudara dan teman-teman yang ada di list messenger saya. Isi pesannya hanya mengingatkan mereka agar jangan lupa telepon, ngobrol dan mengucapkan terima kasih ke orangtua mereka masing-masing khususnya ke Ibu mereka karena kebetulan esoknya adalah hari Ibu. Maklum saja jika saya suruh telepon, karena sebagian dari mereka adalah mahasiswa yang tinggal jauh dari orangtua mereka.

Sore hari pada hari yang sama, saya sudah bersiap untuk acara natal bertema “Confuse? alias Bingung?” bersama sebagian teman-teman. Acara tersebut berlangsung dan berakhir dengan penuh sukacita karna diisi dengan penampilan yang lucu dan menarik oleh teman-teman pengisi acara. Singkat cerita setelah acara tersebut selesai, kami pun pergi jalan-jalan bersama ke mall untuk makan malam bersama alias makan malam bareng. Nah, ceritanya dimulai nih...hehe...

Setelah acara makan-makan selesai, saya pun mengajak teman saya untuk pergi ke toko roti sembari teman-teman lain sedang berfoto ria dengan hiasan natal di dalam mall tersebut. Mungkin kami lebih suka makan daripada foto-foto,hehe.. Teman saya pun mengantri di kasir untuk memesan roti, sedangkan saya dan teman saya yang satu lagi masuk dan duduk sambil menunggu teman saya yang mengantri cukup lama. Di dalam toko tersebut saya sempat duduk di sofa sambil ngobrol dengan teman yang bersama saya, dan selang beberapa menit kami pun pergi karena roti sudah dibeli.

Setelah kembali berkumpul dengan yang lain, saya lalu mencari handphone saya, saya mulai gelisah ketika saya tidak menemukan handphone saya di kantong pakaian maupun di tas saya. Saya pun meminta teman-teman lain untuk menelepon ke nomor hp saya, tapi tidak ada getar atau dering handphone saya yang terdengar, meskipun nomor handphone saya yang mereka hubungi tetap aktif. Mereka pun terus menghubungi nomor handphone tersebut, tapi tiba-tiba panggilan mereka direject/ditolak. Wah, hati saya pun mulai kalang kabut dan segera menuju ke toko roti tadi untuk menanyakan apakah handphone saya tertinggal disana. Dan ternyata benar, handphone saya memang tertinggal disana, namun karyawannya mengatakan bahwa handphone tersebut sempat ditemukan seorang anak kecil di sofa tempat duduk tamu, sayangnya anak tersebut beserta handphone saya terlanjur dibawa pulang.

Saya pun mulai bingung, karena meskipun saya memiliki dua handphone, saya kehilangan handphone yang satu ketika handphone saya yang lainnya kembali rusak setelah sempat diperbaiki. Ironisnya lagi, keesokan harinya saya tidak punya handphone untuk menelepon ke orangtua saya seperti yang saya ingatkan ke teman-teman saya sebelumnya melalui messenger. Bingung, gelisah, dan sedih pun datang setelah sebelumnya sempat bersukacita di acara natal bersama. Tapi teman-teman yang lain tetap berusaha mengirim sms ke nomor handphone saya tersebut berharap orang yang membacanya dapat menghubungi mereka dan mengembalikan handphone tersebut kepada saya. Tapi sampai kami pulang, tidak ada kabar dari orang yang menemukan handphone tersebut.

Setelah pulang dari mall saya pun terus bingung karena memikirkan bagaimana saya harus mengatakan ke Ibu saya tentang handphone saya yang hilang, padahal besok adalah hari Ibu. Dalam hati, saya sebenarnya tidak mau Ibu saya tahu kejadian ini agar tidak membuatnya sedih ketika seharusnya dia merasa senang, ironis deh pokoknya. Hati dan pikiran saya pun terus bertanya ke Tuhan mengapa Ia mengizinkan hal tersebut terjadi? Saya sempat protes ke diri sendiri dan ke Tuhan meskipun sambil berdoa, namun saya berusaha melupakan handphone tersebut dan merelakannya. Keesokan harinya, bersyukur saya akhirnya tetap dapat menelepon Ibu dan mengucapkan selamat hari Ibu meskipun memakai handphone sepupu saya, beruntung Ibu saya tidak curiga karena sepupu saya sudah biasa menelepon atau ditelepon Ibu saya, jadi saya memakai kesempatan tersebut,hehe. Saya hanya tidak mau Ibu saya tahu tentang kejadian yang saya alami sampai saat yang tepat untuk memberitahukannya, karena yang lebih membuat saya takut dan bingung bukan handphone saya yang hilang, tapi perasaan Ibu saya ketika mengetahuinya, bisa saja dia sedih atau marah.hehe…

Sebelumnya handphone saya yang rusak telah kembali diperbaiki tepatnya tanggal 23 Desember 2008. Namun saya kembali bertambah bingung ketika tanggal 24 Desember 2008, malam sebelum natal, sepupu saya bilang bahwa Ibu saya mau datang ke mall bersama saudara saya dan menyuruh kami kesana. Wah, saya pun tidak bisa menghindar dan malam itu saya hanya bisa kembali bingung semalaman. Soal bagaimana saya harus mengatakan ke Ibu saya, saya hanya berdoa dan berserah saja supaya semuanya baik-baik saja setelah saya mengatakannya. Pagi harinya, saya bangun dengan lesu dan masih bingung bagaimana menjawab pertanyaan Ibu saya jika ia menanyakan handphone saya yang satunya, karena ia sangat cermat bahkan ke hal-hal yang kecil. Bingung deh, mungkin terpengaruh tema acara natal bersama sebelumnya yang judulnya “Confuse?”,hehe….

Tidak lama setelah saya bangun tibalah saatnya kebaikan Tuhan terjadi. Sekitar jam 10 pagi sebelum saya bersiap-siap untuk berangkat ke mall, tiba-tiba ada seorang Ibu yang menelepon saya dan menanyakan apakah saya adalah orang yang kehilangan handphone di mall beberapa hari yang lalu? Saya pun langsung menjawab ya, saya yang kehilangan handphone sambil menyebutkan nama saya dan ciri yang ada di handphone saya,hehe. Ibu tersebut mengatakan bahwa anaknya telah menemukan handphone saya di mall dan anaknya menyimpan di rumah, orangtuanya kemudian bermaksud mengembalikannya kepada saya. Wah, saya tertawa senang di dalam hati dan segera membuat janji untuk mengambil handphone tersebut. Karena ada kegiatan dari tanggal 26-29 Desember, saya pun membuat janji untuk mengambilnya setelah kegiatan saya tersebut selesai. Tepat tanggal 30 setelah kegiatan selesai, teman saya pun mengantarkan saya ke sebuah toko bangunan di daerah Kapuk Muara, Jakarta, alamat yang diberikan Ibu tersebut supaya saya bisa mengambil handphone saya. Akhirnya saya pun mengambilnya dengan penuh senyum dan ucapan terima kasih kepada sepasang suami-istri yang sedang menjaga toko bangunan mereka. Sebagai tambahan, Ibu saya benar-benar menanyakan keberadaan handphone saya, padahal saya sudah berusaha agar dia tidak curiga,hehe. Akhirnya saya pun menceritakan kejadian yang saya alami ke Ibu saya dan untungnya Ibu saya hanya membalas dengan sedikit nasihat agar berhati-hati lain kali, haha. Thanks GOD..

Dari kejadian tersebut, saya diberi pengalaman dan diajarkan hal penting sama Tuhan yaitu tentang asumsi / pikiran dan tentang keputusan hati. Pertama yaitu tentang bagaimana saya harus belajar berasumsi / berpikiran positif terhadap orang lain. Ya, jika saya tidak menaruh pikiran positif dan berasumsi bahwa handphone saya tidak akan mungkin dikembalikan, maka saya telah membuat kesalahan karena kenyataannya handphone saya dikembalikan. Jika saya berpikiran / berasumsi bahwa saya akan dimarahi Ibu saya setelah saya menceritakan hal yang saya alami, maka saya kembali berbuat kesalah an karena saya sama sekali tidak dimarahinya. Hal kedua adalah soal menjaga hati agar tetap bersukacita. Sukacita adalah keputusan! Saya bersyukur tidak larut dalam kesedihan, saya bersyukur saat itu Tuhan memampukan hati saya untuk berserah padaNya ketika masalah sedang terjadi berturut-turut.

Sungguh Tuhan tahu apa yang ada di pikiran dan hati kita! Jika kita menaruh pemikiran positif terhadap orang lain / masalah / keadaan yang sulit sekalipun, maka respon yang keluar dari perkataan dan tindakan kita adalah respon yang positif. Percayalah respon yang positif akan membawa suatu hal yang positif bagi kita, hal positif tersebut pasti diberikan Tuhan untuk kita. Dan soal hati yang memutuskan untuk tetap bersukacita, itu sudah menjadi suatu kewajiban! Jika kita sedang mengalami masalah kemudian memilih untuk menyerah kemudian larut dalam perasaan yang tidak benar seperti sedih / mengasihani diri sendiri, sebenarnya kita sedang mengharapkan sekaligus membuat kesedihan itu menjadi semakin nyata. Respon hati seperti itu sangat bertentangan dengan apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam firmanNya, yaitu tetap bersukacita dalam segala hal! Kita perlu bersyukur dan berdoa atas setiap hal yang kita alami, karena jika kita dapat meresponi setiap orang, setiap masalah ataupun hal-hal lain dengan benar dan baik, maka sekali lagi Tuhan akan mengakhirinya dengan benar dan baik pula, karena Tuhan itu selalu mengerti, selalu adil, selalu benar dan pasti baik!

Buktinya tanpa disangka handphone saya dikembalikan dan saya mendapat nasihat yang bijak dari Ibu saya. God is Good!

(1 Tesalonika 5:16-18)

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Semoga memberkati! Cool

Jesus bless u all!Smile

 
Sumber : HTcom
View(7610)
 
Comments :
Back
 
Bila Anda memiliki kesaksian-kesaksian, dan Anda mau memuat kesaksian Anda di HTcom, Anda dapat mengirimkan kesaksian Anda ke admin@hikmat-tuhan.com
Kesaksian Anda akan menjadi berkat bagi banyak orang.