Inspirasi
 
20 Maret 2012 18:25:32

Kasih terhadap Sesama

Kategori : Pertumbuhan Iman
Share
Kasih terhadap Sesama
Masih ingatkah kita tentang kisah seorang anak berusia dua tahun bernama Yue Yue (Wang Yue) yang tertabrak dan terlindas dua kali oleh mobil van yang berbeda di negara China beberapa bulan silam?

Setelah menabrak Yue Yue pengemudi mobil tersebut berlalu begitu saja tanpa mempedulikan nasib Yue Yue.
Ironisnya masyarakat sekitar dan pengemudi kendaraan lainnya yang berlalu lalang di TKP (tempat kejadian perkara) juga menunjukkan sikap tidak peduli bahkan untuk sekedar memindahkan tubuh Yue yue ke tepi jalan agar tidak terlindas untuk ke sekian kalinya.

Ketika kejadian tersebut terekspos ke mayarakat luas, bagaimana kira-kira respon mereka? Mungkin akan banyak komentar yang muncul seperti “tega sekali pelakunya” atau “mereka tidak punya belas kasihan”. Kisah Yue Yue hanya salah satu dari sekian banyak kasus ketidakadilan yang terjadi di jaman kita sekarang. Lalu pertanyaan yang bermunculan adalah di manakah rasa kepedulian terhadap sesama? Begitu minimkah kasih akan sesama dan apakah hati nurani kita tidak tergerak untuk melakukan sesuatu yang berbeda?

Banyak hal yang mendasari memudarnya kasih/kepedulian terhadap sesama. Beberapa penyebab utamanya :
  1. Belum sempurna di dalam kasih (1 Yoh 4:18)
    Jika kita tidak mengenal kasih itu sendiri dan belum mengalami kasih yang sempurna bagaimana kita dapat mengasihi sesama? Allah adalah kasih dan kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 yoh 4:16,18). Karena kasihNya setiap hutang dosa kita dihapuskan, karena kasihNya kita yang tidak layak menjadi layak dihadapan Allah, dan karena kasihNya juga kita pasti mampu mengasihi sama seperti Yesus mengasihi kita.

  2. Yang utama adalah "aku"! (Fil 2:4)
    Si "aku" adalah penghalang terbesar untuk kita melakukan tindakan kasih. Karena jika semua fokus diarahkan kepada "aku" (ego) maka tidak ada celah untuk kasih kepada sesama itu masuk ke dalam hati kita.

  3. 1001 Alasan (Maz 119:60)
    Kita mulai acuh tak acuh dengan kondisi orang lain/lingkungan kita. Alasan-alasan seperti “saya saja masih kekurangan mengapa saya harus menolong dia?” atau “saya tidak mau peduli dengan kabarnya, nanti saya disangka kepo” atau yang lebih ekstrem “apa untungnya buat saya kalau saya peduli padanya” atau dengan alasan yang rohani “biarkan dia sendiri yang menemukan jawaban Tuhan, saya hanya mendukung doa saja”. Semua itu tidak dilarang, namun ketika kita melontarkan banyak alasan untuk melakukan dan menunjukkan tindakan kasih kita kepada sesama saat itu kita sedang menutup kesempatan kepada diri kita sendiri untuk mempraktekkan Firman Tuhan.
Jadi, daripada sibuk memikirkan cara merubah orang lain lebih baik kita mulai membenahi diri kita, kita yang berubah terlebih dahulu. Berubah cara pandangnya, cara berpikirnya, maka perlahan-lahan cara kita memperlakukan orang lainpun akan berubah. Seperti penghapusan diskriminasi terhadap suku/ras tertentu oleh hukum dan pemerintah tidak akan ada artinya jika hukum itu belum dihapuskan dari tempat yang sesungguhnya paling penting yaitu hati kita.

Kita dapat melakukan tindakan kasih/kepedulian terhadap sesama, lingkungan, bahkan Negara kita. Seperti quote terkenal dari salah satu tokoh dunia yang memberi dampak bagi banyak orang melalui hidupnya yaitu Mother Teresa “mungkin kita tidak dapat melakukan banyak hal besar, tetapi kita dapat melakukan hal kecil dengan cinta yang besar”.

Mulailah melakukan tindakan-tindakan kecil disertai kasih dan kepedulian yang besar terhadap sesuatu atau seseorang seperti membuang sampah pada tempatnya, memberi bantuan kepada teman/kerabat yang sedang membutuhkan, dan banyak hal lainnya yang kita dapat lakukan tanpa terpatok oleh berapa besar materi yang kita punya atau seberapa hebat kemampuan kita, hanya lakukanlah dengan kesetiaan yang besar pula karena suatu saat kita sendiri yang akan menikmati hasilnya.
 
Sumber : HTcom
View(6094)

Baca juga :
 
Comments :
Back